Sejuknya pagi dan hangat matahari 
selalu membuat saya merasa beruntung
 selalu bisa menikmatinya.
selalu ada sejumput harapan, atau senyuman dari sisa mimpi semalam. 

Seperti pagi ini, pagi yang yang memang biasa saya nikmati, tapi saya tak mau lupa, bahwa hal yang terlihat biasa karena selalu datang setiap hari, juga harus selalu kita syukuri. Ngopi pagi, adalah hal yang biasa saya lakukan setiap hari, tapi yang membuat acara ngopi pagi saya berbeda, adalah kopi yang dibawakan sebagai oleh-oleh dan sudah seminggu saya nikmati dan selalu ingin saya nikmati setiap pagi.

 mari kita nikmati kopi ini bersama........


 VOILA!!!!!

 KOPI DARI SIDIKALANG HARUM SEDAP CAP SERIMPI



Mungkin dari segi desain kemasan agak meragukan ya, but don't judge the book by it's cover sampai kamu merasakan sendiri kejujuran dari kemasan yang apa adanya ini. serius.. kopi ini memang harum dan sedap!!!!!

 Pertama kali dibawain sih memang ragu akan rasa dari kopi ini, tapi setelah dipertemukan dengan senjata andalan saya setiap pagi, sebuah grinder kopi analog yang cukup dahsyat mengolah biji kopi menjadi bubuk, yang baru saya sadari ternyata bisa diatur tingkat kehalusan bubuk kopi yang dihasilkan, ahahahha norak deh saya.

grinder kopi merek Hario type hoby






Nanti saya juga akan cerita, khusus untuk grinder kopi ini, entah kapan, karna saya sok sibuk jadi ya nanti saja saya bercerita tentang grinder kopi ini. Sidikalang memang terkenal untuk urusan kopi, sidikalang terletak di barat laut propinsi Sumatra Utara, dilihat dari topografi daerah ini, yang berupa pegunungan yang bervariasi, dan udaranya yang sejuk, tak heran kalau daerah ini sangat cocok untuk untuk ditanami kopi dan menghasilkan kopi berkelas yang sudah diakui dunia  http://id.wikipedia.org/wiki/Sidikalang,_Dairi. 

Yang membuat saya tergila-gila dengan kopi ini, adalah harumnya yang betul-betul menyebar di rongga hidung saat kita menyesapnya. Setiap merek pasti punya standard roasting atau pemanggangan biji kopi masing-masing, tapi untuk kopi Sidikalang cap serimpi ini, menurut saya punya hasil roasting yang bagus, tidak terlalu over dan sehingga karakter harum dari biji kopi ini tidak hilang. saya lebih suka menikmati kopi tanpa gula, karna saya selalu menyukai perbedaan setiap karakter kopi, dan kopi ini juga sudah terasa manis meskipun tidak ditambahkan gula, mungkin ini berlaku hanya untuk lidah saya aja kali ya... :)

kopi ini saya yakin tetap enak disajikan dengan cara memasak kopi apa saja, kalo saya yang gak mau ribet, tubruk, adalah jalan tercepat untuk menikmati kopi ini, tinggal panaskan air, tunggu beberapa detik sampai suhu air agak turun, trus tuang deh ke kopi yang sudah siap di dalam cangkir,tutup sebentar sampai bubuk kopi mengendap, dan bersiaplah menyesap kenikmatanya. Ditemani lagu kesukaan dari band kesukaan saya, ngopi pagi di akhir pekan ini menjadi lebih dalam bagi saya untuk merenungkan sesuatu ketika bait ini mengalun........, bagi kami yang selalu asing dengan pernikahan.

Chi trova un amico, trova un tesoro*
We can look for many other foreign lines to make me survive your love
You said "To the future we surrender.
Let's just celebrate today, tomorrow's too far away.
What keeps you waiting to love?
Isn't this what you've been dreaming of?"

***************

 
 happy weekend


 
 
 



        Sore adalah waktu yang tepat untuk menikmati secangkir kopi. Saat panas matahari tidak lagi menyengat, dan nuansa kekuningan matahari terbenam, saat itulah betapa kopi adalah sebuah simbol penyambut malam. Seperti saya sore ini, yang sedang berlibur nostalgia ke Jogja dan ingin menghabiskan sore bersama segelas kopi. Tempat yang saya pilih kali ini adalah Kopitiam Oey yang berada di jalan Wolter Monginsidi, atas rekomendasi dari teman saya yang bekerja di sana. pertama kali diberitahu dimana tempat ini berada, saya begitu excited  karena daerah ini adalah kawasan cagar budaya Jogjakarta, dimana bangunan lama dipertahankan, dan tidak boleh dipugar sedikitpun, dan saya sangat suka sekali dengan bangunan rumah yang bergaya art deco peninggalan jaman Belanda. Begitu sampai,saya seperti merasakan wujud nyata dari impian saya tentang rumah masa depan saya, bangunan rumah Belanda tempo dulu, halaman belakang yang luas untuk beramah-tamah bersama teman, ah semoga terwujud..(amiin).




Saya memesan salah satu menu kopi andalan ditempat ini, konon, kopi ini adalah salah satu warisan menu kopi turun temurun di kalangan indocina. Sesuai darimana resep kopi ini berasal, menu kopi ini diberi nama Indotjina kopi soesoe.. ditulis dengan ejaan lama, agar orang tau, kalau menu ini ada sejak dulu. penyajian kopi ini sangatlah unik, kopi dan susu cream ada dalam gelas yang sama, tapi terlihat sekali batas pisah anara kopi dan cream. Uniknya lagi, kopi ini memakai saringan kopi tempo dulu,seperti kita menikmati kopi Vietnam. Membuat kita harus bersabar menunggu sampai kopi tersaring sempurna dan air dalam saringan itu habis.

      Karena ingin merasakan pahitnya kopi ini sebelum tercampur cream, saya mencicipi sedikit dengan menggunakan sendok kecil, sesapan pertama yang nikmat saat menikmati kopi ini dengan kepahitan asli kopi Indonesia. Memesan kopi susu ini , juga diberikan segelas es batu, jika ingin menikmatinya dingin. Saya memilih tetap menikmati kopi susu ini hangat, sehangat sore hari di Jogja dan pertemanan tanpa syarat yang selalu saya rasakan saat saya pulang ke kota ini. Akhirnya saya mengaduk kopi dan cream kental yang berada didasar gelas, membuat pahitnya kopi mereda, menjadi satu dalam manisnya creamer, lembut, selembut perasaan saya sore ini, di hari terakhir liburan saya di kota nostalgia ini. Pulang ke kota ini selalu membuat saya seperti merasakan perayaan kepulangan hati,jiwa dan raga.Utuh.
 
 
       Berjalan di pagi hari menyusuri kota Jogjakarta itu adalah sebuah anugrah terindah, saat mengunjungi kota yang sudah lama tidak saya kunjungi ini. Menyambangi nostalgia waktu kuliah, dan tetap saja kota ini selalu bisa mengaduk emosi saya, entah kenapa. Berjalan kaki dari perempatan kantor pos besar, menuju arah stasiun Tugu, lalu berjalan menuju daerah kota baru, sebuah pagi yang menakjubkan dikala hangatnya matahari di Jogja menyapa.

     Aktifitas pagi hari tak lengkap rasanya tanpa kopi pagi, akhirnya saya memutuskan untuk singgah di sebuah tempat  ngopi 24 jam di daerah kota baru. Semesta, sebuah tempat  ngopi para muda-mudi kota Jogja yang ingin menikmati kopi tanpa harus terganggu oleh jam tutup sebuah coffee shop, saat malam tempat ini begitu ramai, dan sesak oleh pengunjung yang kebanyakan mahasiswa. Berbeda dengan pagi ini, saat semua pegawai sedang membersihkan sisa-sisa kopi yang tumpah tadi malam, saya sengaja datang untuk menikmati kopi di tempat ini, dengan suasana yang berbeda, pagi,tenang,dan sendiri. sekalian menikmati kenangan akan tempat ini, karena saya tahu betul tempat ini sebelumnya.


            Saya memesan secangkir Semesta Spesial yang paling banyak diminati pengunjung dan menjadi menu andalan di tempat ini. kentalnya kopi ini langsung mengilangkan kantuk yang masih tersisa.Kopi ini begitu unik, sekaki menyesapnya, terasa ada rempah yang dicampur kedalamnya, harum, dan membangkitkan kenangan. Kentalnya kopi ini juga sangat berbeda, mungkin hasil gilingan sendiri dengan tehnik dan tingkat kehalusan yang sudah melewati proses eksperimen berkali-kali.

         Pertama kali menyesap kopi ini ada sedikit kenangan yang tiba-tiba menyeruak, aroma kayu manis yang begitu terasa menambah nikmatnya kopi ini,pahit lalu tercium aroma khas kayu manis lalu disusul rasa manis dari gula yang dituang sedikit, agar pahitnya tetap terasa setiap menyesap kopi ini.seperti kenangan-kenangan pahit yang terus terus ada, dan menjadi terasa manis saat kita mengenangnya sesekali. tak begitu mahal untuk bisa menikmati kopi ini, dengan harga Rp.7500,- kita bisa menikmati kopi spesial dalam segelas mug ini. Betapa sederhananya kota ini, kesederhanaan yang membuat kota ini menjadi eksotis dan selalu dirindukan.
 

    Author

    Write something about yourself. No need to be fancy, just an overview.

    Archives

    June 2013

    Categories

    All